Virus
HIV / AIDS Memang Berbahaya, Jangan Mendiskriminasi Penderitanya
(Oleh
: Muhammad Dzulfiqar Wiraputra)
Menurut data Dinas Kesehatan
Provinsi Kalimantan Barat, dari keseluruhan kabupaten dan kota di Kalimantan
Barat, Pontianak menduduki peringkat pertama dalam kasus HIV. Hal ini
menunjukkan betapa seriusnya HIV berkembangbiak di kota ini. Sebanyak 1.669
kasus HIV dan sebanyak 885 kasus AIDS terjadi di Kota Pontianak[1].
Mengingat besarnya angka kasus HIV dan AIDS yang terjadi di Kalimantan Barat,
khususnya di Kota Pontianak maka akan besar pula masalah yang ditimbulkan
akibat virus ini. Karena perkembangan dan penyebaran virus ini sangat
signifikan dari tahun ke tahun dan cukup drastis, oleh sebab itu permasalahan
yang di timbulkannya semakin kompleks pula, meliputi penyebaran, penanggulangan
atau penanganan, dan pengobatannya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa
stigma-stigma negatif cenderung melekat pada orang yang terkena HIV dan AIDS.
Pemahaman yang kurang tentang HIV dan AIDS di masyarakat perlu di minimalisir
agar penanganan HIV dan AIDS bukan dengan memerangi penderitanya tetapi
memerangi cara penyebarannya.
Menjalani kehidupan sehari-hari
sering kita menemukan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA). Sebagian besar
masyarakat masih melihat bahwa ODHA merupakan orang yang menderita penyakit
menjijikkan, stigma-stigma negatif ini cenderung melekat pada diri ODHA. Dengan
kata lain keberadaan mereka tidak diinginkan dalam lingkungan sosial, bahkan
mereka sering mendapatkan perlakuan diskriminasi
Stigma masyarakat terhadap ODHA
hingga saat ini masih melekat khususnya di Kalimantan Barat sendiri. Kota
Pontianak merupakan kota transit sehingga memicu penyebaran HIV dan AIDS.
Pertumbuhan industri pada sektor usaha hiburan menjadikan kota ini tergolong
rawan terhadap penyebaran HIV dan AIDS melalui transmisi seksual. Keberadaan
tempat prostitusi dan hiburan malam yang sering dikunjungi oleh kaum pria
berpotensi besar dalam penyebarluasan virus HIV dan AIDS kepada keluarga mereka
sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari di
Kota Pontianak dapat kita temukan orang-orang yang menderita HIV dan AIDS.
Mereka yang disebut ODHA ini sering mendapatkan perlakuan tidak adil dalam
pergaulan di lingkungan sosialnya. Ada perlakuan yang berbeda terhadap
penderita HIV dan AIDS, seperti dijauhi bahkan didiskriminasi. Penderitanya
bukan saja dipandang sebelah mata, namun ada yang dikucilkan. Terlebih, banyak
melekat mitos di masyarakat seputar HIV dan AIDS. Misalnya saja, apabila dekat ODHA akan terinfeksi HIV dan AIDS. Padahal,
secara medis salah besar.
Stigma dan
diskriminasi ini membawa
dampak buruk sehingga
sering terjadi pengucilan,
pengusiran, pemutusan hubungan
kerja, bahkan kekerasan.
Stigma dan diskriminasi
membawa penderitaan psikis, emosi,
spiritual dan sosial
ke masyarakat yang luar
biasa, merambah hingga
ke keluarga, menghilangkan
kesempatan akses pelayanan
kesehatan dan pelayanan
dukungan publik lainnya,
bahkan kesempatan pendidikan,
serta menghilangkan
rasa aman hidup
berbangsa dan bermasyarakat.
Masih kuatnya
stigma tersebut berdampak
sangat serius bagi
orang Positif HIV
maupun upaya pengendalian HIV secara keseluruhan. Stigma,
mengakibatkan ODHA enggan
mencari layanan kesehatan
dan dukungan sosial
yang semestinya dapat
mereka peroleh. Banyak ODHA harus
kehilangan pekerjaan atau kehilangan kesempatan mendapatkan
pekerjaan, asuransi, layanan-layanan umum lainnya, bahkan seorang anak pun
dapat ditolak untuk
mendapatkan pendidikan di
sekolah.
Stigmatisasi juga
dapat mengakibatkan terhambatnya
upaya pencegahan penularan
HIV. Hal ini disebabkan
kuatnya nilai dan
keyakinan yang dianut
oleh sebagian orang
di dalam masyarakat.
Mereka lebih memilih
untuk menahan informasi
mengenai cara-cara yang
benar untuk mencegah
penularan HIV, serta
lebih mendukung adanya
peraturan dan kebijakan
yang justru membuat
populasi yang berisiko
bahkan menjadi lebih
rentan.
Ketua VCT Rumah Sakit Jiwa
Sungai Bangkong, Junaidi Wibowo menjelaskan, HIV adalah virus yang menyerang
dan mengurangi sistem kekebalan tubuh seseorang. “Salah kaprah, jika ada mitos,
apabila dekat dengan penderitanya akan terjangkit,” kata Junaidi saat
memberikan materi dalam Pelatihan HIV dan AIDS untuk Media di Aula Dinas
Kesehatan Kota Pontianak[2].
Dijelaskannya, orang yang
terinfeksi HIV tidak dapat dikenali dengan melihat penampilan fisik. Hanya bisa
diketahui lewat pemeriksaan darah di VCT dengan menggunakan regrentia atau
bahan khusus deteksi adanya virus. Sedangkan penularannya bisa melalui hubungan
badan dengan orang telah terinfeksi HIV
tanpa menggunakan pengaman. Selain itu
bisa juga melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna
narkoba.
“Juga bisa dari transfusi darah
dari orang yang telah terinfeksi HIV. Kalau hanya dekat saja tidak mungkin bisa
tertular,” jelas Junaidi. Dari ibu hamil, juga bisa menularkan virus kepada anaknya. Virus ini bisa menginfeksi
janin dalam tiga tahapan. Sewaktu dalam kandungan, ketika melahirkan, dan
melalui pemberian ASI.
Junaidi mengatakan, masyarakat
tidak perlu takut berdekatan dengan penderita HIV. “Berjabat tangan, berpelukan
atau mengobrol dan mencium tangan tidak membuat orang tertular virus HIV. Virus
ini hanya akan menular bila terjadi kontak seksual atau pertukaran cairan tubuh
dan darah,” jelasnya.
Bagaimanapun ODHA memerlukan
dukungan serta bantuan moril untuk bisa melanjutkan hidupnya dengan sebaik mungkin.
Karena, stres memicu sebuah penyakit menjadi lebih parah. “Rangkul hatinya agar
mentalnya sehat dan memiliki kekuatan untuk menghadapi hidup,” ajak
Junaidi.
Kita semua turut bertanggung
jawab untuk menghadapi stigma dan diskriminasi. Bukan hanya ODHA yang harus
melakukannya. Kita semua dapat memainkan peran untuk mengedukasi pihak lain,
menyuarakan dan menunjukkan sikap dan perilaku baru. Beberapa langkah
praktis yang dapat
dilakukan untuk menghadapi
Stigma dan Diskriminasi
adalah sebagai berikut:
1. Jadilah
orang baik, pikirkanlah kata-kata yang
kita gunakan dan
bagaimana kita memperlakukan ODHA,
lalu cobalah untuk
mengubah pikiran dan
tindakan.
2. Berbagilah
pada orang lain mengenai hal-hal yang
sudah kita ketahui
dan ajaklah mereka
untuk membicarakan tentang
stigma dan bagaimana
mengubahnya.
3. Atasilah masalah
stigma ketika Anda
melihatnya di rumah,
tempat kerja maupun
masyarakat. Bicaralah, katakan
masalahnya dan buatlah
orang paham bahwa
stigma itu melukai.
4. Lawanlah stigma
melalui kelompok. Setiap kelompok
dapat menemukan stigma
dalam situasi mereka
sendiri dan setuju
untuk melakukan satu
atau dua tindakan
praktis agar terjadi
perubahan.
5. Mengatakan stigma
sebagai sesuatu yang
“salah” atau “buruk”
tidaklah cukup. Bantulah
orang untuk bertindak
melakukan perubahan. Setuju
pada tindakan yang
harus dilakukan, mengembangkan rencana
dan lakukan.
6. Berpikir besar.
Mulai dari yang
kecil, dan bertindak
sekarang.
Adapun hal-hal yang dapat kita
lakukan secara individu untuk tidak mediskriminasi para ODHA[3],
di antaranya :
1. Waspada pada
bahasa yang kita
gunakan dan hindari
kata-kata yang menstigma mereka.
2. Sediakan perhatian
untuk mendengarkan dan
mendukung anggota keluarga
ODHA di rumah.
3. Kunjungi dan
dukung ODHA beserta
keluarganya di lingkungan
tempat tinggal kita.
4. Doronglah
ODHA untuk menggunakan layanan yang
tersedia seperti konseling,
test HIV, pengobatan
medis, dan merujuk mereka
pada siapa pun
yang dapat menolong.
Selain itu, kita juga dapat
mengajak orang lain untuk tidak mendiskriminasi para ODHA, di antaranya :
1. Gunakan percakapan
informal sebagai kesempatan
untuk membicarakan stigma.
2. Gunakan kisah
nyata sehingga dapat
menggambarkan stigma dalam
konteks praktis seperti
misalnya: cerita mengenai
perlakuan buruk pada
ODHA dapat mengakibatkan depresi;
demikian juga sebaliknya
kisah nyata mengenai
perlakuan baik pada
ODHA dan hasil
yang dapat dipetik.
3. Tanggapi kata-kata
stigma ketika kita
mendengarnya, namun lakukanlah
dengan cara-cara yang
bijak sehingga membuat
orang mengerti bahwa
kata-kata mereka dapat
melukai hati orang.
4. Koreksilah mitos
dan persepsi tentang
AIDS dan ODHA.
5. Promosikan ide
mengenai “menjadi pendengar
yang baik dan
bagaimana kita dapat
mendukung ODHA beserta
keluarganya.”