GenRe as a Lifestyle
(Oleh
: Muhammad Dzulfiqar Wiraputra)
Lifestyle
dapat diartikan sebagai pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam
aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri
seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya[1]. Kalau
membicarakan gaya hidup tentunya tidak ada habisnya. Karena gaya hidup selalu
berubah dan mengikuti perubahan zaman. Namun lifestyle yang dimaksud di sini
adalah, GenRe as a Lifestyle. Ya, GenRe as a Lifestyle atau GenRre sebagai
Gaya Hidup merupakan suatu pola gaya hidup dalam membangun generasi berencana.
Pengertian GenRe sendiri adalah remaja atau mahasiswa yang memiliki pengetahuan,
bersikap dan berperilaku sebagai remaja atau mahasiswa untuk menyiapkan dan
perencanaan yang matang dalam kehidupan berkeluarga. GenRe merupakan suatu
program yang di bawah naungan BKKBN yang
dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi
remaja. GenRe sendiri memiliki program
yang bernama Program GenRe, Program GenRe adalah suatu program untuk
memfasilitasi terwujudnya Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat,
terhindar dari risiko Triad KRR, mendewasakan usia pernikahan, mempunyai
perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia
Sejahtera serta menjadi roh model bagi teman sebayanya.
Melihat
lifestyle remaja saat ini, sungguh miris
rasanya melihat perkembangan pergaulan remaja saat ini. Mereka seolah-olah
bangga dengan yang mereka lakukan seperti pergaulan bebas bahkan tidak malunya
mereka mengakui pernah melakukan hubungan seks bebas. Ini bahkan akan menambah
kasus baru seperti penyebaran atau penularan HIV dan AIDS bagi kalangan remaja.
Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dari keseluruhan
kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, Pontianak menduduki peringkat pertama
dalam kasus HIV. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya HIV berkembangbiak di
kota ini. Sebanyak 1.669 kasus HIV dan sebanyak 885 kasus AIDS terjadi di Kota
Pontianak[2].
Selain
itu, kita juga banyak menemukan lifestyle
remaja yang berani memakai narkotika. Kasus tersebut bahkan sudah tidak asing
lagi di Pontianak, banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan remaja tersebut
menggunakan narkotika diantaranya pengaruh lingkungan pergaulan, ingin lagi
dari masalah atau stress, hingga akibat broken
home yang dilakukan orangtuanya. Ini bahkan akan membuat kasus baru, yaitu
penyebaran atau penularan HIV dan AIDS yang di karenakan jarum suntik yang
mereka gunakan tidak steril. Kota Pontianak sendiri berada di peringkat keempat
nasional dalam penggunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya. Lebih dari 50
persen pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik tertular penyakit HIV dan
AIDS. Sisanya sekitar 50 persen adalah orang yang berisiko terkena virus itu. Berdasarkan
data Badan Narkotika Nasional tahun 2006 hingga 2007, Provinsi Kalimantan Barat
masuk 10 besar peredaran narkoba di Indonesia, dan Kota Pontianak masuk dalam
lima besar jumlah pengguna narkoba dari kalangan remaja[3].
Selain
itu, kita juga dapat menemukan kasus-kasus remaja yang di usia dini sudah
menikah, ini terjadi karena beberapa faktor di antaranya faktor kebudayaan
daerah masing-masing dan faktor ‘kecelakaan’ yang di haruskan bagi remaja untuk
menikah. Berbagai kehawatiran muncul akibat terjadinya pernikahan usia dini
ini, mulai dari dampaknya terhadap kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan,
tingginya kematian ibu yang melahirkan hingga tingginya kasus perceraian di
kalangan keluarga usia muda sebagai akibat dari belum siapnya mental dan
spiritual mereka.
Kasus-kasus
di atas merupakan kasus yang sering terjadi di Kalimantan Barat, baik di Kota
Pontianak sendiri maupun di daerah-daerah lainnya yang ada di Kalimantan Barat.
Kasus di atas sebagian besar dilakukan oleh remaja, di mana remaja tersebut
belum mendapatkan tokoh yang benar-benar bisa menjadi panutannya sehingga
mereka melakukan hal tersebut karena di anggap baik oleh mereka. Hal inilah yang
menjadi permasalahan bagi kita semua baik dari orang tua hingga instansi-instansi
yang terkait untuk menjadi ‘motor penggerak’ bagi mereka untuk bisa menjadi
generasi yang berencana.
Hal
inilah yang melatarbelakangi penulisan GenRe
as a Lifestyle, GenRe sebagai Gaya Hidup. Dengan GenRe as a Lifestyle, kita sebagai remaja atau mahasiswa bisa
menjadi ‘motor penggerak’ baik bagi kita sendiri, keluarga hingga remaja atau
mahasiswa lain agar bisa menyiapkan generasi yang berencana. GenRe as a Lifestyle memberikan contoh pola
gaya hidup dalam merencanakan kehidupan berkeluarga yang lebih terencana dan
matang. GenRe as a Lifestyle sejalan
dengan Program GenRe maupun substansi-substansi yang ada dalam GenRe. Substansi-substansi
GenRe meliputi, 8 Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Triad
KRR, Advokasi (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), Life Skill serta Pengetahuan
tentang Gender.
GenRe as a Lifestyle
merupakan sebuah pola gaya hidup untuk semua kalangan, bukan hanya menyiapkan
remaja saja dalam membangun keluarga namun juga bisa menjadi gaya hidup bagi
orang tua dalam berperan membina anak-anaknya. Memasuki kehidupan berkeluarga
tentunya memerlukan persiapan yang matang dari setiap pasangan atau orang tua. Menyiapkan
pribadi yang matang sangat diperlukan dalam membangun keluarga yang harmonis. Menyiapkan
pribadi yang matang dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai moral dengan
melaksanakan 8 fungsi keluarga yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan
kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan
lingkungan. Dalam setiap fungsi keluarga terdapat nilai-nilai moral yang harus
diterapkan dalam keluarga.
Dalam
GenRe as a Lifestyle juga menyiapkan pola
hidup remaja agar terhindar dari risiko Triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja)
seperti penggunaan narkotika, seks bebas serta HIV / AIDS. Pendekatan Kesehatan
Reproduksi Remaja (KRR) dilakukan karena usia remaja terjadi perubahan
lingkungan hidup seperti pertemanan, gaya hidup yang makin bebas, hubungan
keluarga yang kian renggang hingga pola hidup yang makin sendiri-sendiri.
Ada
data memprihatinkan, perilaku seks tidak sehat di kalangan remaja cenderung
meningkat. Ada satu penelitian pada usia 15-19 tahun yang mengaku pernah
melakukan hubungan seksual. Remaja perempuan sebesar 1 persen sedangkan remaja
laki-laki 6 persen. Tapi, kalau ditelusuri lebih lanjut, 26 persen remaja
mengaku mengetahui bahwa teman mereka terlibat dalam hubungan seks bebas[4].
Untuk
remaja, pendekatan yang digunakan berbeda. Bukan kontrasepsi untuk menekan
kelahiran, tapi untuk melindungi kesehatan. Sejalan dengan Program Triad KRR, Program
GenRe as a Lifestyle adalah program untuk membantu remaja agar terhindar dari
resiko Triad KRR, dan memiliki status sistem reproduksi yang sehat melalui
peningkatan komitmen, pemberian informasi, pelayanan konseling, rujukan medis,
dan pendidikan kecakapan hidup.
GenRe as a Lifestyle
juga memberikan sebuah pola gaya hidup yang lebih matang dan terencana bagi
remaja dalam menyiapkan pernikahannya, baik itu persiapan dari segi fisik,
psikis, ekonomi serta sosial dan yang lebih penting adalah keidealan umur untuk
menikah. Lalu ada pertanyaan, kenapa sih pendewasaan usia perkawinan itu
sangatlah penting bagi remaja dan anak muda Indonesia, khususnya kita sebagai
generasi penerus bangsa ? Karena pendewasaan diri sebelum ke jenjang pernikahan
harus dipersiapkan dengan matang, alasannya karena banyak faktor ataupun dampak
negatif baik mental maupun fisik yang terjadi kalau pendewasaan usia perkawinan
itu tidak dilaksanakan atau dipersiapkan dengan tepat dan matang, karena akan
memicu banyak permasalahan seperti ketidak harmonisan, ketidak cocokan,
tanggung jawab yang kurang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan bagi
perempuan berisiko tinggi terhadap kematian saat melahirkan, dan pertikaian
sampai berujung ke perceraian. Lalu berapakah usia ideal menikah ? Usia ideal
menikah minimal usia 21 tahun bagi perempuan dan usia 25 tahun bagi laki-laki.
Selain itu tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan
pengertian dan kesadaran kepada remaja agar di dalam merencanakan keluarga,
mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan
berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi,
serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
Pola-pola
gaya hidup di atas merupakan suatu contoh kecil yang dapat kita terapkan mulai
dini dalam menyiapakan remaja yang berencana sesuai dengan Program GenRe. GenRe as a Lifestyle atau GenRe sebagai
Gaya Hidup bisa menjadi pola hidup kita yang baru, baik untuk kita sediri,
keluarga bahkan masyarakat dalam merencanakan kehidupan berkeluarga agar lebih terecana
dan matang. Namun, agar terwujudnya generasi yang dipersiapkan dengan terencana
maka memerlukan uluran dan kerjasama dari semua pihak, agar persoalan remaja
serta kendalanya dapat diselesaikan secara bersama-sama. Karena generasi berencana,
bukan tidak mustahil akan melahirkan generasi emas bagi Indonesia.
GenRe as a Lifestyle
(Oleh
: Muhammad Dzulfiqar Wiraputra)
Lifestyle
dapat diartikan sebagai pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam
aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri
seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya[1]. Kalau
membicarakan gaya hidup tentunya tidak ada habisnya. Karena gaya hidup selalu
berubah dan mengikuti perubahan zaman. Namun lifestyle yang dimaksud di sini
adalah, GenRe as a Lifestyle. Ya, GenRe as a Lifestyle atau GenRre sebagai
Gaya Hidup merupakan suatu pola gaya hidup dalam membangun generasi berencana.
Pengertian GenRe sendiri adalah remaja atau mahasiswa yang memiliki pengetahuan,
bersikap dan berperilaku sebagai remaja atau mahasiswa untuk menyiapkan dan
perencanaan yang matang dalam kehidupan berkeluarga. GenRe merupakan suatu
program yang di bawah naungan BKKBN yang
dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi
remaja. GenRe sendiri memiliki program
yang bernama Program GenRe, Program GenRe adalah suatu program untuk
memfasilitasi terwujudnya Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat,
terhindar dari risiko Triad KRR, mendewasakan usia pernikahan, mempunyai
perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia
Sejahtera serta menjadi roh model bagi teman sebayanya.
Melihat
lifestyle remaja saat ini, sungguh miris
rasanya melihat perkembangan pergaulan remaja saat ini. Mereka seolah-olah
bangga dengan yang mereka lakukan seperti pergaulan bebas bahkan tidak malunya
mereka mengakui pernah melakukan hubungan seks bebas. Ini bahkan akan menambah
kasus baru seperti penyebaran atau penularan HIV dan AIDS bagi kalangan remaja.
Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dari keseluruhan
kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, Pontianak menduduki peringkat pertama
dalam kasus HIV. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya HIV berkembangbiak di
kota ini. Sebanyak 1.669 kasus HIV dan sebanyak 885 kasus AIDS terjadi di Kota
Pontianak[2].
Selain
itu, kita juga banyak menemukan lifestyle
remaja yang berani memakai narkotika. Kasus tersebut bahkan sudah tidak asing
lagi di Pontianak, banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan remaja tersebut
menggunakan narkotika diantaranya pengaruh lingkungan pergaulan, ingin lagi
dari masalah atau stress, hingga akibat broken
home yang dilakukan orangtuanya. Ini bahkan akan membuat kasus baru, yaitu
penyebaran atau penularan HIV dan AIDS yang di karenakan jarum suntik yang
mereka gunakan tidak steril. Kota Pontianak sendiri berada di peringkat keempat
nasional dalam penggunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya. Lebih dari 50
persen pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik tertular penyakit HIV dan
AIDS. Sisanya sekitar 50 persen adalah orang yang berisiko terkena virus itu. Berdasarkan
data Badan Narkotika Nasional tahun 2006 hingga 2007, Provinsi Kalimantan Barat
masuk 10 besar peredaran narkoba di Indonesia, dan Kota Pontianak masuk dalam
lima besar jumlah pengguna narkoba dari kalangan remaja[3].
Selain
itu, kita juga dapat menemukan kasus-kasus remaja yang di usia dini sudah
menikah, ini terjadi karena beberapa faktor di antaranya faktor kebudayaan
daerah masing-masing dan faktor ‘kecelakaan’ yang di haruskan bagi remaja untuk
menikah. Berbagai kehawatiran muncul akibat terjadinya pernikahan usia dini
ini, mulai dari dampaknya terhadap kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan,
tingginya kematian ibu yang melahirkan hingga tingginya kasus perceraian di
kalangan keluarga usia muda sebagai akibat dari belum siapnya mental dan
spiritual mereka.
Kasus-kasus
di atas merupakan kasus yang sering terjadi di Kalimantan Barat, baik di Kota
Pontianak sendiri maupun di daerah-daerah lainnya yang ada di Kalimantan Barat.
Kasus di atas sebagian besar dilakukan oleh remaja, di mana remaja tersebut
belum mendapatkan tokoh yang benar-benar bisa menjadi panutannya sehingga
mereka melakukan hal tersebut karena di anggap baik oleh mereka. Hal inilah yang
menjadi permasalahan bagi kita semua baik dari orang tua hingga instansi-instansi
yang terkait untuk menjadi ‘motor penggerak’ bagi mereka untuk bisa menjadi
generasi yang berencana.
Hal
inilah yang melatarbelakangi penulisan GenRe
as a Lifestyle, GenRe sebagai Gaya Hidup. Dengan GenRe as a Lifestyle, kita sebagai remaja atau mahasiswa bisa
menjadi ‘motor penggerak’ baik bagi kita sendiri, keluarga hingga remaja atau
mahasiswa lain agar bisa menyiapkan generasi yang berencana. GenRe as a Lifestyle memberikan contoh pola
gaya hidup dalam merencanakan kehidupan berkeluarga yang lebih terencana dan
matang. GenRe as a Lifestyle sejalan
dengan Program GenRe maupun substansi-substansi yang ada dalam GenRe. Substansi-substansi
GenRe meliputi, 8 Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Triad
KRR, Advokasi (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), Life Skill serta Pengetahuan
tentang Gender.
GenRe as a Lifestyle
merupakan sebuah pola gaya hidup untuk semua kalangan, bukan hanya menyiapkan
remaja saja dalam membangun keluarga namun juga bisa menjadi gaya hidup bagi
orang tua dalam berperan membina anak-anaknya. Memasuki kehidupan berkeluarga
tentunya memerlukan persiapan yang matang dari setiap pasangan atau orang tua. Menyiapkan
pribadi yang matang sangat diperlukan dalam membangun keluarga yang harmonis. Menyiapkan
pribadi yang matang dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai moral dengan
melaksanakan 8 fungsi keluarga yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan
kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan
lingkungan. Dalam setiap fungsi keluarga terdapat nilai-nilai moral yang harus
diterapkan dalam keluarga.
Dalam
GenRe as a Lifestyle juga menyiapkan pola
hidup remaja agar terhindar dari risiko Triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja)
seperti penggunaan narkotika, seks bebas serta HIV / AIDS. Pendekatan Kesehatan
Reproduksi Remaja (KRR) dilakukan karena usia remaja terjadi perubahan
lingkungan hidup seperti pertemanan, gaya hidup yang makin bebas, hubungan
keluarga yang kian renggang hingga pola hidup yang makin sendiri-sendiri.
Ada
data memprihatinkan, perilaku seks tidak sehat di kalangan remaja cenderung
meningkat. Ada satu penelitian pada usia 15-19 tahun yang mengaku pernah
melakukan hubungan seksual. Remaja perempuan sebesar 1 persen sedangkan remaja
laki-laki 6 persen. Tapi, kalau ditelusuri lebih lanjut, 26 persen remaja
mengaku mengetahui bahwa teman mereka terlibat dalam hubungan seks bebas[4].
Untuk
remaja, pendekatan yang digunakan berbeda. Bukan kontrasepsi untuk menekan
kelahiran, tapi untuk melindungi kesehatan. Sejalan dengan Program Triad KRR, Program
GenRe as a Lifestyle adalah program untuk membantu remaja agar terhindar dari
resiko Triad KRR, dan memiliki status sistem reproduksi yang sehat melalui
peningkatan komitmen, pemberian informasi, pelayanan konseling, rujukan medis,
dan pendidikan kecakapan hidup.
GenRe as a Lifestyle
juga memberikan sebuah pola gaya hidup yang lebih matang dan terencana bagi
remaja dalam menyiapkan pernikahannya, baik itu persiapan dari segi fisik,
psikis, ekonomi serta sosial dan yang lebih penting adalah keidealan umur untuk
menikah. Lalu ada pertanyaan, kenapa sih pendewasaan usia perkawinan itu
sangatlah penting bagi remaja dan anak muda Indonesia, khususnya kita sebagai
generasi penerus bangsa ? Karena pendewasaan diri sebelum ke jenjang pernikahan
harus dipersiapkan dengan matang, alasannya karena banyak faktor ataupun dampak
negatif baik mental maupun fisik yang terjadi kalau pendewasaan usia perkawinan
itu tidak dilaksanakan atau dipersiapkan dengan tepat dan matang, karena akan
memicu banyak permasalahan seperti ketidak harmonisan, ketidak cocokan,
tanggung jawab yang kurang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan bagi
perempuan berisiko tinggi terhadap kematian saat melahirkan, dan pertikaian
sampai berujung ke perceraian. Lalu berapakah usia ideal menikah ? Usia ideal
menikah minimal usia 21 tahun bagi perempuan dan usia 25 tahun bagi laki-laki.
Selain itu tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan
pengertian dan kesadaran kepada remaja agar di dalam merencanakan keluarga,
mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan
berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi,
serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
Pola-pola
gaya hidup di atas merupakan suatu contoh kecil yang dapat kita terapkan mulai
dini dalam menyiapakan remaja yang berencana sesuai dengan Program GenRe. GenRe as a Lifestyle atau GenRe sebagai
Gaya Hidup bisa menjadi pola hidup kita yang baru, baik untuk kita sediri,
keluarga bahkan masyarakat dalam merencanakan kehidupan berkeluarga agar lebih terecana
dan matang. Namun, agar terwujudnya generasi yang dipersiapkan dengan terencana
maka memerlukan uluran dan kerjasama dari semua pihak, agar persoalan remaja
serta kendalanya dapat diselesaikan secara bersama-sama. Karena generasi berencana,
bukan tidak mustahil akan melahirkan generasi emas bagi Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar