Senin, 02 Mei 2016

GenRe as a Lifestyle

GenRe as a Lifestyle
(Oleh : Muhammad Dzulfiqar Wiraputra)

Lifestyle dapat diartikan sebagai pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya[1]. Kalau membicarakan gaya hidup tentunya tidak ada habisnya. Karena gaya hidup selalu berubah dan mengikuti perubahan zaman. Namun lifestyle yang dimaksud di sini adalah, GenRe as a Lifestyle. Ya, GenRe as a Lifestyle atau GenRre sebagai Gaya Hidup merupakan suatu pola gaya hidup dalam membangun generasi berencana. Pengertian GenRe sendiri adalah remaja atau mahasiswa yang memiliki pengetahuan, bersikap dan berperilaku sebagai remaja atau mahasiswa untuk menyiapkan dan perencanaan yang matang dalam kehidupan berkeluarga. GenRe merupakan suatu program yang di bawah naungan BKKBN  yang dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja.  GenRe sendiri memiliki program yang bernama Program GenRe, Program GenRe adalah suatu program untuk memfasilitasi terwujudnya Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko Triad KRR, mendewasakan usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta menjadi roh model bagi teman sebayanya.
Melihat lifestyle remaja saat ini, sungguh miris rasanya melihat perkembangan pergaulan remaja saat ini. Mereka seolah-olah bangga dengan yang mereka lakukan seperti pergaulan bebas bahkan tidak malunya mereka mengakui pernah melakukan hubungan seks bebas. Ini bahkan akan menambah kasus baru seperti penyebaran atau penularan HIV dan AIDS bagi kalangan remaja. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dari keseluruhan kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, Pontianak menduduki peringkat pertama dalam kasus HIV. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya HIV berkembangbiak di kota ini. Sebanyak 1.669 kasus HIV dan sebanyak 885 kasus AIDS terjadi di Kota Pontianak[2].
Selain itu, kita juga banyak menemukan lifestyle remaja yang berani memakai narkotika. Kasus tersebut bahkan sudah tidak asing lagi di Pontianak, banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan remaja tersebut menggunakan narkotika diantaranya pengaruh lingkungan pergaulan, ingin lagi dari masalah atau stress, hingga akibat broken home yang dilakukan orangtuanya. Ini bahkan akan membuat kasus baru, yaitu penyebaran atau penularan HIV dan AIDS yang di karenakan jarum suntik yang mereka gunakan tidak steril. Kota Pontianak sendiri berada di peringkat keempat nasional dalam penggunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya. Lebih dari 50 persen pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik tertular penyakit HIV dan AIDS. Sisanya sekitar 50 persen adalah orang yang berisiko terkena virus itu. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional tahun 2006 hingga 2007, Provinsi Kalimantan Barat masuk 10 besar peredaran narkoba di Indonesia, dan Kota Pontianak masuk dalam lima besar jumlah pengguna narkoba dari kalangan remaja[3].
Selain itu, kita juga dapat menemukan kasus-kasus remaja yang di usia dini sudah menikah, ini terjadi karena beberapa faktor di antaranya faktor kebudayaan daerah masing-masing dan faktor ‘kecelakaan’ yang di haruskan bagi remaja untuk menikah. Berbagai kehawatiran muncul akibat terjadinya pernikahan usia dini ini, mulai dari dampaknya terhadap kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan, tingginya kematian ibu yang melahirkan hingga tingginya kasus perceraian di kalangan keluarga usia muda sebagai akibat dari belum siapnya mental dan spiritual mereka.
Kasus-kasus di atas merupakan kasus yang sering terjadi di Kalimantan Barat, baik di Kota Pontianak sendiri maupun di daerah-daerah lainnya yang ada di Kalimantan Barat. Kasus di atas sebagian besar dilakukan oleh remaja, di mana remaja tersebut belum mendapatkan tokoh yang benar-benar bisa menjadi panutannya sehingga mereka melakukan hal tersebut karena di anggap baik oleh mereka. Hal inilah yang menjadi permasalahan bagi kita semua baik dari orang tua hingga instansi-instansi yang terkait untuk menjadi ‘motor penggerak’ bagi mereka untuk bisa menjadi generasi yang berencana.
Hal inilah yang melatarbelakangi penulisan GenRe as a Lifestyle, GenRe sebagai Gaya Hidup. Dengan GenRe as a Lifestyle, kita sebagai remaja atau mahasiswa bisa menjadi ‘motor penggerak’ baik bagi kita sendiri, keluarga hingga remaja atau mahasiswa lain agar bisa menyiapkan generasi yang berencana. GenRe as a Lifestyle memberikan contoh pola gaya hidup dalam merencanakan kehidupan berkeluarga yang lebih terencana dan matang. GenRe as a Lifestyle sejalan dengan Program GenRe maupun substansi-substansi yang ada dalam GenRe. Substansi-substansi GenRe meliputi, 8 Fungsi Keluarga, Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Triad KRR, Advokasi (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), Life Skill serta Pengetahuan tentang Gender.
GenRe as a Lifestyle merupakan sebuah pola gaya hidup untuk semua kalangan, bukan hanya menyiapkan remaja saja dalam membangun keluarga namun juga bisa menjadi gaya hidup bagi orang tua dalam berperan membina anak-anaknya. Memasuki kehidupan berkeluarga tentunya memerlukan persiapan yang matang dari setiap pasangan atau orang tua. Menyiapkan pribadi yang matang sangat diperlukan dalam membangun keluarga yang harmonis. Menyiapkan pribadi yang matang dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai moral dengan melaksanakan 8 fungsi keluarga yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Dalam setiap fungsi keluarga terdapat nilai-nilai moral yang harus diterapkan dalam keluarga.  
Dalam GenRe as a Lifestyle juga menyiapkan pola hidup remaja agar terhindar dari risiko Triad KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja) seperti penggunaan narkotika, seks bebas serta HIV / AIDS. Pendekatan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dilakukan karena usia remaja terjadi perubahan lingkungan hidup seperti pertemanan, gaya hidup yang makin bebas, hubungan keluarga yang kian renggang hingga pola hidup yang makin sendiri-sendiri.
Ada data memprihatinkan, perilaku seks tidak sehat di kalangan remaja cenderung meningkat. Ada satu penelitian pada usia 15-19 tahun yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Remaja perempuan sebesar 1 persen sedangkan remaja laki-laki 6 persen. Tapi, kalau ditelusuri lebih lanjut, 26 persen remaja mengaku mengetahui bahwa teman mereka terlibat dalam hubungan seks bebas[4].
Untuk remaja, pendekatan yang digunakan berbeda. Bukan kontrasepsi untuk menekan kelahiran, tapi untuk melindungi kesehatan. Sejalan dengan Program Triad KRR, Program GenRe as a Lifestyle adalah program untuk membantu remaja agar terhindar dari resiko Triad KRR, dan memiliki status sistem reproduksi yang sehat melalui peningkatan komitmen, pemberian informasi, pelayanan konseling, rujukan medis, dan pendidikan kecakapan hidup.
GenRe as a Lifestyle juga memberikan sebuah pola gaya hidup yang lebih matang dan terencana bagi remaja dalam menyiapkan pernikahannya, baik itu persiapan dari segi fisik, psikis, ekonomi serta sosial dan yang lebih penting adalah keidealan umur untuk menikah. Lalu ada pertanyaan, kenapa sih pendewasaan usia perkawinan itu sangatlah penting bagi remaja dan anak muda Indonesia, khususnya kita sebagai generasi penerus bangsa ? Karena pendewasaan diri sebelum ke jenjang pernikahan harus dipersiapkan dengan matang, alasannya karena banyak faktor ataupun dampak negatif baik mental maupun fisik yang terjadi kalau pendewasaan usia perkawinan itu tidak dilaksanakan atau dipersiapkan dengan tepat dan matang, karena akan memicu banyak permasalahan seperti ketidak harmonisan, ketidak cocokan, tanggung jawab yang kurang, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan bagi perempuan berisiko tinggi terhadap kematian saat melahirkan, dan pertikaian sampai berujung ke perceraian. Lalu berapakah usia ideal menikah ? Usia ideal menikah minimal usia 21 tahun bagi perempuan dan usia 25 tahun bagi laki-laki. Selain itu tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar di dalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi, serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
Pola-pola gaya hidup di atas merupakan suatu contoh kecil yang dapat kita terapkan mulai dini dalam menyiapakan remaja yang berencana sesuai dengan Program GenRe. GenRe as a Lifestyle atau GenRe sebagai Gaya Hidup bisa menjadi pola hidup kita yang baru, baik untuk kita sediri, keluarga bahkan masyarakat dalam merencanakan kehidupan berkeluarga agar lebih terecana dan matang. Namun, agar terwujudnya generasi yang dipersiapkan dengan terencana maka memerlukan uluran dan kerjasama dari semua pihak, agar persoalan remaja serta kendalanya dapat diselesaikan secara bersama-sama. Karena generasi berencana, bukan tidak mustahil akan melahirkan generasi emas bagi Indonesia.




[1] Kotler : 2002
[2] Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Agustus 2012
[3] Kompas.com, 23 Juni 2010
[4] Viva.co.id. Vivanews, 11 Juni 2012l

Tidak ada komentar:

Posting Komentar